Welcome To My World!


Saya ingin mengajakmu berbenah diri. Oleh karenanya, saya akan lebih banyak berbicara tentang hidup dan kehidupan. Saya ingin pula mengajakmu bersama-sama mencari identitas diri sebagai manusia. Bukan hanya menjadi sekadar sesosok mahluk hidup yang cukup membatasi diri pada mencari kesenangan-kesenangan duniawi semata.

Ya,  memang, hidup tidak bisa melepaskan diri dari keperluan-keperluan duniawi.   Orang hidup harus berusaha untuk mengumpulkan logistik dan perbekalan. Hanya saja, kita hidup memiliki tujuan tertentu. Oleh karenanya, kelengkapan dunia ini harus dianggap hanya sekadar sarana. Bukan sebagai tujuan. Apalagi jika harus dikejar secara membabi-buta sampai-sampai rela mengorbankan kejujuran dan rasa keadilan.

Sewaktu masih di SMU, saya pernah berdiskusi tentang “hidup untuk makan, atau makan untuk hidup?” Waktu itupun kami sepakat bahwa yang benar adalah “makan untuk hidup”. Masalahnya, setelah itu, hidup untuk apa?

Untuk membahas itu, saya memuat beberapa tulisan kecil di situs ini. Meski belum menjawab seluruh permasalahan, tetapi setidaknya bisa memberikan sedikit gambaran tentang makna hidup dan kehidupan.

Dengan menyusuri situs ini,  mungkin engkau akan merasa seakan sedang menelusuri seluruh lembaran hidup yang pernah saya lalui. Namun begitu, dapatkah engkau menyimpulkan siapa saya? Jejak-jejak yang saya tinggalkan belum tentu menunjukkan siapa saya sesungguhnya. Sebab, bukan karena bersampan seseorang bisa disebut nelayan. Bukan karena berkhotbah seseorang bisa disebut ulama. Di sini, di situs ini, engkau mungkin akan melihat tulisan-tulisan saya berupa cerpen dan puisi. Akan tetapi, dengan begitu, layakkah engkau menyebut saya seorang penulis atau penyair? Saya sendiri tak akan pernah berani menyebut diri dengan sebutan itu.

Dari situs ini, engkau akan mengetahui bahwa saya, sebagaimana saya yakini setiap orang lain juga sama,  bukanlah seperti selembar kertas yang hanya diisi dua warna hitam dan putih saja. Itupun kalau hitam dan putih kita nyatakan sebagai warna.  Dalam hidup saya melebar warna gradasi yang bernama abu-abu.  Ada juga warna-warna lain yang turut meramaikan ruang hidupku.

Itu sebabnya bahasa yang akan engkau jumpai di sini pun tidak hanya satu, karena  saya tahu, bahasa yang berbeda-beda itu semuanya berasal dari sumber yang sama,   yaitu bahasa hati.  Saya ingin agar semua yang datang ke sini bisa mengerti apa yang ingin saya katakan, karena sesungguhnya banyak sekali pesan yang ingin saya sampaikan. Meski sementara ini semua bahan aktualisasi diri itu masih saya biarkan tersimpan rapat di laci, pada saatnya nanti, ketika orang-orang mulai sering mengunjungi situsku ini, saya akan berbicara lebih banyak tentang berbagai hal. Saya akan berbicara tentang kehidupan, tentang seni, tentang kejujuran, tentang masalah-masalah kontemporer yang sering-kali mengganggu keseimbangan jiwa manusia. Tentang pedagang di trotoar yang tak perduli dengan kenyamanan pedestrian. Tentang rakyat yang tak mau menghormati dan mena’ati pemimpinnya. Tentang pemimpin yang tak mau tahu dan tak perduli pada kesusahan rakyatnya.

Banyak permasalahan yang perlu dicermati. Tetapi semua itu sesungguhnya dapat kita bicarakan secara baik-baik, bukan dengan teriak-teriak di jalanan. Bukan dengan membakar-bakar ban bekas untuk mendramatisir keadaan. Bukan dengan menghujat orang-orang yang kepadanya kita tidak berkenan. Banyak cara lain yang lebih elegan. Banyak jalan keluar yang bisa kita pecahkan bersama. Dengan bermusyawarah. Sebagaimana layaknya sesama saudara.

Ayolah, mari kita tunjukkan kecintaan pada negeri. Dengan cara melimpahkan keperdulian dan kasih sayang kepada sesama anak bangsa.

So, would you come on in.

***

%d bloggers like this: