Pengantar

Suatu ketika, beberapa tahun lalu, dalam sebuah obrolan santai di sore hari, seorang teman berkata kepadaku, “Cobalah menulis sebuah buku. Isinya berupa kumpulan esai, mengulas berbagai masalah hidup dan falsafah kehidupan.”
Secara spontan waktu itu aku menjawab, “Di masyarakat kita, tak banyak orang yang tertarik untuk membaca. Apalagi bahasan-bahasan semacam itu. Mereka lebih menyukai menonton acara-acara opera sabun, lawakan konyol, atau gosip-gosip yang menggunjingkan aib orang lain.”
Meski tidak secara terbuka dan terus-terang, temanku itu menyindirku dengan sebuah protes halus. “Jangan terbiasa menganggap rendah intelektualitas orang lain,” katanya. “Masih lebih banyak orang yang memilih mencari kedalaman arti dari suatu realitas kehidupan. Hanya, mungkin mereka lebih suka bersikap diam dan cukup memosisikan diri menjadi pemerhati. Mereka ini tergolong kelompok silent mayority. Sedang yang kita lihat hiper-aktip dan senang bersuara riuh rendah, sebetulnya hanya sekelompok kecil yang mencatut nama masyarakat secara keseluruhan untuk diatas-namakan.”
Mungkin ia benar. Tapi mungkin juga salah. Entahlah. Namun, bagaimanapun, percakapan pendek beberapa tahun lalu itu telah membuatku kini berpikir. Alangkah bagusnya bila kuturuti saja saran teman itu. Sebab, lihat saja realitas kehidupan yang ada di tengah masyarakat kita. Aku melihat begitu banyak orang telah kehilangan kearifan. Setiap muncul suatu permasalahan, mereka cenderung menyikapinya dengan diliputi emosi, penuh kemarahan, dengki, dan prasangka buruk. Setiap terbuka aib seseorang, mereka cenderung menggunjingkannya seakan sedang merecah daging mayat dengan lahap. Ada pula yang lalu tampil ke depan untuk berlagak menjadi pahlawan moral. Seakan ia adalah mahluk paling suci yang tak pernah berbuat dosa.
Namun sebuah kesadaran menguasai seluruh pikiranku sepenuhnya, bahwa sebenarnya kita sedikitpun tak memiliki hak untuk menilai. Apalagi menghakimi orang lain. Sebab, kita ini hanya mahluk lemah dan hina. Siapa tahu, di sisi lain, mereka malah jauh lebih baik dari kita.
Oleh karena itu, peran yang memungkinkan bisa kulakukan hanyalah sebatas menjadi seorang pendongeng. Merekam setiap lakon kehidupan untuk dituturkan ulang dalam kemasan kisah-kisah fiksi yang menghibur. Dan aku lebih memilih membuat sebuah Blog untuk menjadi media tempat aku menuliskan pesan-pesan dan gagasan.
Maka, Voila! this is it. Inilah Blog-ku, tempat aku mencurahkan sebagian isi hati. Kuharap bisa menjadi bacaan hiburan sekaligus menawarkan inspirasi. Agar kita bisa menyikapi setiap permasalahan yang kita hadapi dengan penuh kearifan.
Salam.
Dadang Sadkar.

***

%d bloggers like this: