Sajak-Sajak Lama

Secangkir Kopi di Pagi Hari

Tahukah kau
aku masih suka terbayang kantuk di ketinting
dalam perjalanan dari Long Iram ke Tering
di riak coklat air Mahakam.

Tahukah kau
aku masih suka terngiang sepi berbisik
di antara desah napas angin meniup pucuk meranti
yang kulewati.

Tahukah kau
hari ini, ketika kuhirup aroma secangkir kopi
sambil membaca koran pagi
wangi rambutmu melintas lagi.

teras rumah, 2005.


Senja Jatuh di Areal Pekuburan

Sebatang pohon kehilangan angin
ada gagak bertengger tak berkepak
tapi tak ada hujan hari ini.

daun-daun kering yang meliuk lalu terhempas
coklat pudar seperti warna bola mata burung tua.

di atas kuburku
patahan ranting terserak tanpa gerak
hilang kehendak
seperti jarum jam yang tak lagi berdetak.

belum juga dipasang batu nisan
bertuliskan namaku –  tertoreh di marmer
sedang patok kayu ini tak sanggup lagi
menjadi tanda koordinat lahat.

senja jatuh di areal pekuburan
langit merunduk – anginpun terdiam.

“ah, sepi sekali di sini.”

pekuburan margawati, 2005.

kepada Indonesiaku

kalau benar engkau seorang ibu, aku menggugatmu. karena dari rahimmu tak lagi kau lahirkan anak-anak yang kelak menjadi putera perkasa. memburu raksasa yang merambah masuk.  jauh ke dalam hutan-hutan kita. naik ke bukit-bukit. menjejak alas-alas lembah.

.

kalau benar engkau seorang ibu, aku menggugatmu. karena dari kotak pandora itu tak lagi tersisa sedikit ruang bagiku.  untuk bernapas di lorong-lorong. dalam himpitan batu. dan hunjaman belati merasuk jauh.  ke dalam pusaran jantungku. mengalirkan nanah. meletupkan amukan murka. pada setiap peristiwa.

.

***


%d bloggers like this: