Menyikapi Perbedaan

19 Apr

Menurut keyakinan arus utama orang-orang Muslim, pengakuan mereka itu hanyalah kesesatan  serta mengada-ada belaka. Sebab, menurut keyakinan yang ditanamkan semenjak kecil, Nabi Muhammad s.a.w itu adalah nabi terahir. Tak akan ada lagi nabi setelah beliau. Keyakinan serupa ini tak berbeda dengan keyakinan pengikut Nabi Yusuf a.s dahulu kala, yang menganggap Nabi Yusuf a.s adalah nabi terahir dan tak akan ada lagi nabi setelah beliau. Tak berbeda pula dengan keyakinan kaum Yahudi pada zaman pendakwaan Nabi Isa a.s, bahwa Nabi Musa a.s adalah nabi terahir dan tak akan ada lagi nabi setelah beliau. Maka tak aneh kalau pada jaman sekarang pun, karena berkepercayaan bahwa seorang nabi yang mengikuti syari’at Nabi Muhammad saw masih bisa datang, Jama’ah Ahmadiyah dianggap telah melenceng dari ajaran Islam oleh mayoritas Muslim di dunia. Tentu saja dalam pengertian melenceng dari ajaran Islam yang mereka pahami. Sebagai konsekuensi dari pemahaman itu, mayoritas Muslim pun menolak untuk percaya dan menolak untuk menjadi pengikut Ahmadiyah.

Kalau saja setelah penolakan itu lalu setiap golongan berjalan pada keyakinan masing-masing, seraya tidak menghujat apalagi melakukan penganiayaan-penganiayaan di luar batas terhadap orang-orang yang dianggap sesat, maka sampai titik ini tak akan ada risiko apapun atas penolakan itu. Kalaupun keyakinan orang-orang Ahmadiyah itu memang salah dan mereka telah melenceng dari Islam, dengan  membiarkan dan memberikan mereka toleransi, tak akan ada tuntutan atau hukuman mengancam kita. Sebab, jangankan kita, Nabi Muhammad s.a.w sekalipun hanya diberi wewenang untuk mengingatkan, dan tidak diangkat untuk menjadi pengawas atau penjaga atas ulah manusia. “Innama anta mudzakir. Lasta ‘alaihim bi mushaithir”. Demikian pula kalau seandainya keyakinan orang-orang Ahmadiyah itu ternyata benar dan orang yang mereka ikuti itu betul-betul rasul Tuhan, meskipun kita menolak untuk percaya, sepanjang kita tidak memusuhi dan melakukan penganiayaan terhadap mereka, tak akan ada adzab diturunkan di dunia ini. Urusan tentang keimanan atau pengingkaran sepenuhnya menjadi pertanggungjawaban kita kelak di akhirat. Bukankah aturannya pun “Fa man sya-a falyu’min wa man sya-a falyakfur”?

Persoalannya menjadi lain dengan adanya penganiayaan-penganiayaan terhadap komunitas Ahmadiyah sebagaimana terjadi selama ini. Dengan melakukan penganiayaan-penganiayaan itu, sesungguhnya kita telah mengundang sebuah risiko. Yaitu, bagaimana jika sekiranya ternyata orang-orang Ahmadiyah itu benar, dan orang yang mereka percayai sebagai nabi penerus Nabi Muhammad s.a.w itu pun benar, padahal kita telah mengadakan makar untuk memusnahkan gerakan mereka serta menganiaya mereka seperti yang selama ini dilakukan? Mengintimidasi, membakar rumah-rumah, menyegel, merusak, bahkan membakar masjid-masjid mereka, tak perduli Al-Quran ikut terbakar di dalamnya? Bukankah menurut penuturan Al-Quran perilaku seperti itulah yang akan berakibat turunnya hukuman Tuhan di dunia ini?

Kita tidak akan pernah tahu, di antara kita dan mereka, siapakah yang sesat dan siapa yang berjalan di atas rel yang benar. “Kullun ya’malu ‘ala syakilatihi. Fa robbukum a’lamu bi man huwa ahda sabilan.” Setiap orang beramal sesuai paradigmanya masing-masing. Namun Tuhanmulah yang paling mengetahui siapa yang lebih terpimpin jalannya (Bani Israil : 84)

Kearifan yang ingin saya tawarkan di sini ialah, meskipun tidak sependapat dengan suatu golongan lain, hendaknya kita tidak bertindak melewati batas-batas yang telah ditetapkan oleh Tuhan. Biarlah masing-masing kita beramal menurut keyakinan masing-masing tanpa harus menghujat apalagi menganiaya kaum yang tidak sepaham dengan kita. Marilah kita berpegang pada aturan “Lana a’maluna wa lakum a’malukum, la hujjata bainana wa bainakum. Allahu yajma’u bainana wa ilaihil mashir.” Bagi kami amal-amalan kami, dan bagi kamu amal-amalan kamu. Jangan ada saling hujat antara kami dengan kamu. Allahlah yang akan menghimpun kita semua, dan kepada Dialah kita kembali (Asy-Syura : 14).

Menjaga sikap dan perilaku agar tidak melanggar  batasan-batasan yang telah ditetapkan di dalam kitab suci, setidaknya, merupakan salahsatu upaya secara spiritual untuk memperkecil kemungkinan penyebab turunnya musibah. Tentu saja di samping kita mencari  upaya-upaya lain pula selain itu.

Secara kasat mata, kita tak akan pernah tahu, apakah yang kita sebut bencana yang menimpa negeri selama beberapa dekade ini murni fenomena alam semata, ataukah fenomena alam yang digunakan Tuhan untuk menurunkan hukuman atas kedurhakaan yang melampaui batas. Hanya perenungan yang dalam yang akan mampu mencari jawabannya.

Kalaupun ini memang sebuah hukuman, saya berempati dan turut berduka pada korban-korban yang tertimpa bencana.  Jika sekiranya mereka bukan termasuk orang-orang berdosa yang layak menerima hukuman, maka untuk mereka mungkin saja ini hanya merupakan sebuah kifarat. Kepada yang menerima musibah ini dengan sabar dan tawakal, saya yakin Tuhan yang Maha Pemurah serta Maha Penyayang pasti akan menggantinya dengan kompensasi yang setimpal. Bahkan tak mustahil berlipat ganda.

Dalam situasi demikian, mereka hanya korban. Para pemimpin bangsalah sesungguhnya yang paling bertanggung jawab atas semua yang terjadi di negeri ini.

***

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: