Raja Sulaiman dan Ratu Bilqis

27 Jul

Suatu ketika, Raja Sulaiman mengundang Ratu Bilqis dari negeri Saba untuk mengunjungi kerajaannya. Dari kabar yang tersiar serta dari laporan para menterinya, beliau mendengar bahwasanya Ratu Bilqis adalah seorang penyembah matahari. Oleh karenanya Raja Sulaiman berniat menawarkan pengertian tentang konsep ketuhanan kepadanya.

Begitulah. Khusus untuk menyambut tetamu dari negeri Saba itu, Raja Sulaiman sengaja memerintahkan paraahlinya untuk membangun sebuah istana megah yang amat indah. Jalan menuju balairung tempat pertemuan diselenggarakan sengaja dipasangi lantai jubin terbuat dari kaca yang amat bening. Dan di bawah lantai bening itu dibuatkan kolam dengan air mengalir gemericik. Demikian indah dan halusnya hasil kerja parapembangun istana itu, sehingga yang tampak nyata pada penglihatan mata hanyalah sebuah kolam dialiri air yang jernih. Sedangkan lantai kaca itu menjadi tidak terlihat, seakan tak ada. Konon, Ratu Bilqis pun sampai terkecoh oleh keindahan istana itu. Ketika sedang menuju balairung, Sang Ratu dari negeri Saba itu sempat menyingsingkan kain hingga ke betis hanya untuk berjalan di atas jubin kaca.
Kearifan inilah yang ditawarkan Raja Sulaiman kepada Ratu Saba.
“Istana ini memang sengaja dibangun berlantaikan kaca. Di bawahnya dialirkan kolam. Lalu engkau menyingsingkan kain untuk melintasinya, karena engkau melihat air. Padahal yang engkau sangkakan air itu, hanyalah kaca yang begitu bening.
Serupa itu pulalah matahari yang engkau sembah selama ini. Ia hanyalah benda mati semata. Wujud Tuhanlah yang berada di baliknya, yang memancarkan segala cahaya kehidupan kepada kita semua.Tanpa Dia, matahari itu tak berarti apa-apa. Ia bukan sumber cahaya sebenarnya. Tuhan Yang Maha Kuasalah yang telah menganugerahkan kepada benda langit itu cahaya yang dipancarkannya.”
Ratu Bilqis amat terkesan, dan menerima kearifan ini. Ia pun meninggalkan kepercayaan lamanya, lalu mengikuti Raja Sulaiman untuk tunduk seutuhnya kepada Tuhan Yang Maha Mulia.
Di dalam perilaku sehari-hari sekarang ini, terkadang kita lupa. Seperti Ratu Bilqis yang menyamarkan air kolam dengan lantai kaca, serupa itu pulalah kita memandang segala sesuatu di dalam realita kehidupan. Tak jarang, manakala kita hidup di bawah bayang-bayang seorang pembesar penguasa atau seorang bos atasan kita, kita merasakan diri sangat kecil di hadapannya. Lalu bersujud menghambakan diri kepadanya. Di mata kita, ia adalah sumber penghidupan. Sang Pemberi kehidupan. Kehilangan dia akan berarti kehilangan sumber hidup.
Demikian pula dengan cara seseorang memperlakukan bisnis yang sedang ia geluti. Satu dua orang, ada yang memandang bisnisnya seakan ia adalah sumber sejati yang memberinya penghidupan. Kehilangannya akan berarti kehilangan sumber kehidupan segala-galanya.
Tanpa disadari, di antara kita selama ini, ada yang telah mengangkat atasan atau bisnis yang kita anggap sebagai sumber pemberi penghidupan itu, menjadi tuhan kita. Lalu kita pun kehilangan kemampuan untuk menyadari keberadaan Wujud Tuhan Sejati yang berada di baliknya. Padahal, sesungguhnya, Tuhan Yang Maha Mulialah Sang Pemberi kehidupan yang hakiki. Dialah Sang Pemberi Rejeki yang sejati. Segala sesuatu yang selama ini berhubungan langsung dengan kita, berkaitan dengan rejeki yang kita terima, hanyalah sekadar sarana perantara belaka. Tanpa perkenan Tuhan, mereka itu tak akan berarti apa-apa. Kalau pun selama ini mereka dijadikan sarana perantara, samasekali tak berarti Tuhan bergantung kepada mereka. Apakah kau pikir, jika mereka itu tak ada Tuhan akan kebingungan mencari sarana lain untuk mengalirkan rejeki yang telah Dia peruntukkan kepadamu?
Berhentilah memandang di dalam kegelapan. Terimalah kearifan seperti yang telah pernah ditawarkan Raja Sulaiman kepada Ratu Bilqis. Sebab, kalau saja kearifan itu bisa kita miliki, maka pada setiap apa pun yang terlihat oleh mata kita, di situ akan tampak Wajah Tuhan dengan jelas. Kita akan mampu melihat Tuhan di mana pun berada. Kita akan dapat melihat Tuhan pada setiap ketinggian. Kita akan dapat melihat Tuhan di setiap tempat-tempat rendah. Kita akan dapat melihatNya melalui setiap nyanyian burung, atau melalui erangan orang sakit dan papa. Kita akan dapat melihat Tuhan melalui keindahan cuaca di musim bunga, atau tatkala terkena bencana di kala melanda negeri.

***

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: