Ruang Jingga

24 Jul

Dulu, karya-karya sastera seperti puisi atau cerita pendek hanya bisa dibaca pada rubrik seni di majalah-majalah atau koran-koran saja. Namun dewasa ini, kita bisa menemuinya juga di media baru seperti jejaring sosial Facebook, misalnya. Dengan demikian, ruang pemublikasian karya puisi pun menjadi semakin melebar. Bahan bacaan yang tersedia juga menjadi begitu luas jadinya. Orang yang senang menulis dan memublikasikan karyanya untuk dibaca orang lain, kini banyak memilih memanfaatkan jejaring sosial semacam Facebook tadi.

Dari adanya interaksi para penulis dengan penikmatnya, kemudian terbentuklah sebuah komunitas tersendiri di antara mereka. Salahsatu contoh komunitas seperti itu adalah sebuah group di jejaring Facebook yang terbentuk pada bulan Oktober 2009 dengan menyandang nama Pecinta Puisi. Saat ini, anggotanya tercatat sudah lebih dari 900 orang.

“Ketika pertama kali membentuk group ini, yang terlintas dalam pikiran saya adalah membuat wadah untuk menampung para penulis agar dapat leluasa berekspresi lewat tulisan-tulisannya,” tutur Rini Intama, penggagas account Group Pecinta Puisi, yang juga seorang Blogger pengelola http://riniintama.wordpress.com.

Bersama-sama Ki Gambuh R. Basedo dan A. Badri AQ.T, Rini Intama kemudian secara bersama-sama menyatu dalam sebuah tim kurator untuk mengumpulkan beberapa puisi dari parapenulis yang tergabung dalam Group Pecinta Puisi ini, serta menampungnya dalam bentuk sebuah buku antologi puisi yang diberi judul Ruang Jingga, Antologi Puisi 12 Penyair Jingga. Diterbitkan oleh Penerbit Q Publisher, Depok, beralamat e-mail di : q.publisherku@gmail.com.

Sesuai yang tertera pada judulnya, buku ini memuat sejumlah puisi buah karya 12 penyair yang terdiri dari Rini Intama, Ki Gambuh R. Basedo, Riyadi, Lendy Soekarno, Restu Hariyanto, Nanang Rusmana, Iin Syah, Bening Hati, Anna Althafunnisa, Hozaini Geresis, Afrizal, dan Banyu Segara Pantura.

Biasanya, citra sebuah buku senantiasa beranjak dari nama besar pengarangnya, sehingga kerap nama si penulis terus saja membayangi karyanya, ke mana pun pergi, di mana pun berada. Dan orang gampang sekali membeli hanya dengan melihat nama penulisnya yang terpampang di sana.

Namun tidak demikian halnya pada buku Ruang Jingga. Berbeda dari kebanyakan buku-buku dalam khazanah sastera lain, Ruang Jingga samasekali tidak mengandalkan diri pada kebesaran nama penulisnya. Ia adalah sekumpulan puisi yang berangkat dari ungkapan empati dan simpati terhadap situasi sosial di tanah air, lalu dikemas dalam bentuk sebuah buku dengan tampilan menarik. Lalu dilepas begitu saja untuk menjalani pengujian, apakah ia mampu berbicara sendiri tanpa harus dibantu predikat yang melekat pada diri penulisnya. Di sini, buku ini akan menentukan sendiri nasibnya. Sebab, sebuah buku tidak akan memiliki arti apa-apa jika belum pernah dibaca. Semakin banyak orang membacanya, akan semakin bermakna buku itu jadinya. Oleh karenanya, pembacalah yang akan menentukan kekuatan buku ini, bukan penulisnya. Ia bisa hilang atau bisa juga berkelanjutan. Saya hanya bisa merekomendasikan, cobalah simak dan telaah puisi-puisi yang terkumpul di situ. Tidakkah membuatmu merasa tergelitik? Puisi-puisi apik yang terangkum di buku ini merupakan sebuah alternatif pilihan, menambah lebih banyak lagi khazanah sastera yang sudah ada. Bagi saya sendiri, karya parapenyair yang memanggul nama Penyair Jingga ini layak mendapatkan apresiasi tersendiri.

***

4 Responses to “Ruang Jingga”

  1. iin syah 08/08/2010 at 7:55 am #

    Terima kasih atas apresiasinya terhadap Ruang Jingga.
    Salam.

    dadangsadkar, “salam kenal dari saya. Puisinya bagus-bagus…”

  2. Rini intama 09/08/2010 at 4:12 pm #

    terima kasih Kang Dadang atas apresiasinya pada buku Ruang Jingga

    kasih sayangmu yang tulus menembus ruang dan waktu membuka cakrawala saling asih dan proses pembelajaran yang begitu berharga

    renjana yg menari didadaku
    liukan gemulai jemari yang merindu
    merona wajah puisiku yang jingga..

    dadangsadkar, “lama kita tak sua…”

  3. nanangrusmana 11/11/2010 at 5:50 pm #

    terus terang sy tak sengaja datang ke sini…., berawal dari searchingi
    iseng saja ingin mengetahui sejauh mana popularitas Ruang Jingga di google, akhirnya sy menemu ulasan kang Dadang.. #salam kenal# terima kasih atas apresiasinya…salam sastra.
    dadangsadkar: “salam kenal. mari terus berkarya…”

  4. ocekojiro 28/01/2011 at 1:47 pm #

    Wah… Pastinya keren neeh… Meluncur menuju face book Pecinta Puisi sekarang juga, siapa tau aja ada yg mau ngisi “halaman Puisiku + Puisi sahabatku” di blog ku yg masih kosong melompong, padahal dah lebih dari sebulan aku luncurkan, he he he

    dadangsadkar:”saya juga mau, kalo dibolehin ngisi.”

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: