Suatu Ketika di Setasiun Kereta Api Bandung

21 Jul

Permisi, saya mau numpang bercerita sedikit. Boleh? Setting ceritanya terjadi di tahun 1964, ketika peron di setasiun kereta api Bandung masih belum seluruhnya beratap, dan ruang tunggu penumpang hanya berupa pojok sempit di ujung bangunan sebelah barat, tanpa pendingin ruangan, berjarak hanya beberapa lompatan kaki dari gudang tempat penyimpanan barang-barang kiriman.

Udara di ruang tunggu yang sesak itu terasa gerah, tatkala matahari di atas setasiun kereta api Bandung merayap naik semakin tinggi. Di bangku tunggu terbuat dari kayu bercat hijau tua, Jang Wawan duduk menunggu kereta yang terlambat tiba, yang membuat jadwal keberangkatan pun jadi ikut tertunda. Pinggang dan kakinya terasa pegal-pegal. Peluh membasahi sekujur tubuh, terutama di leher dan punggungnya, akibat kegerahan. Ia paling benci kalau harus menunggu seperti itu. Menurutnya, menunggu itu pekerjaan paling membosankan dan sering membuat hati menjadi kesal, dan mengkal. Sebab, pada saat menunggu seperti itu, tak ada satu pilihan pun yang bisa dilakukan, selain melihat sekeliling atau berulang kali menengok jam tangan. Raut mukanya pun terlihat keruh, tertekuk masam tak sedap dipandang.

Seorang lelaki paruh baya, berkepala setengah botak dengan sedikit sisa rambut yang telah menipis serta memutih, memintanya untuk membagi tempat duduk di bangku yang sudah sesak itu.

“Maap, maap, bisa geser sedikit?” Katanya sembari sedikit mendorong pundak Jang Wawan agar menggeser. Karuan saja bangku yang sudah padat itu menjadi semakin sesak. Bayangkan, bangku yang dirancang untuk menampung duduk tiga orang, harus menderita dijejali lima manusia-manusia tambun. Jang Wawan menjadi orang yang paling menderita, karena hanya ia satu-satunya orang kurus dengan berat tubuh tak lebih dari empat puluh dua kilo saja. Hatinya meradang. Tapi kegeramannya hanya mampu ia pendam dalam hati saja, karena kuatir dikeroyok orang empat kalau ia mengumpat. Sebagai pengobat rasa kesal, ia hanya mencoba merem-melek sambil melupakan semua derita yang menimpanya.

Manusia tambun berperut buncit dengan kepala setengah botak itu menggoyang-goyangkan pinggul dan tubuhnya serupa orang mengoplos minuman dalam botol, agar mendapatkan tempat lebih leluasa, seakan tak perduli dan tak berempati pada kesusahan yang diderita Jang Wawan. Lalu, untuk menghapus kejenuhan, ia mencoba berbasa-basi, mengajak bicara pada Jang Wawan yang duduk terjepit tak berdaya di sampingnya, dengan sebuah pernyataan klise, “Wah, udaranya panas sekali hari ini.”

Sebetulnya, Jang Wawan bukanlah tipe seseorang yang mempunyai sifat pendiam dan enggan berbincang dengan orang yang belum dikenal. Akan tetapi kemengkalan yang sedang menguasai hatinya membuat mulutnya terkatup rapat. Sedikitpun ia tak ada selera untuk menjawab.
“Mau ke Surabaya?”
Jang Wawan menggeleng.
“Ke Solo? Ke Yogya?”
Jang Wawan menggeleng.
“Mau ke Jakarta?”
Jang Wawan hanya mengangguk. Si Tambun Buncit itu melirik-lirik ke sekeliling ruangan. Matanya lalu terpaku pada papan berisi jadwal pemberangkatan kereta.
“Buat apa ya, dibuat jadwal kedatangan dan pemberangkatan, kalau nyatanya kereta sering terlambat?” katanya ringan. “Ya..? Ya..?” Katanya lagi sambil mencolek lengan Jang Wawan.

Merasa terus didesak pembicaraan yang menjengkelkan, ahirnya Jang Wawan pun menyahuti walau dengan suara ketus.
“Buat apa disediakan ruang tunggu, kalau kereta tak boleh terlambat?” Katanya.
“Lho, saya kan bukan mau menunggu kereta telat?” Si Tambun Buncit menyela dengan suara meninggi.
“Kalau bukan menunggu kereta, mengapa duduk di sini?” Jang Wawan merasa tersulut. Suaranya tak kalah tinggi.
“Jadi, harus di mana?” Si Tambun Buncit menjadi sengit.
“Ya pulang, gih, sana.” Jang Wawan pun sengit.
“Sampean ngusir?” Kini suara Si Tambun Buncit melengking.
“Bukan ngusir, situ yang nggak mau menunggu kereta telat, kan?” Suara Jang Wawan pun melengking.

Saya tak ingin meneruskan cerita ini, karena yang terjadi selanjutnya benar-benar memprihatinkan. Dari semula sekadar mencoba berbasa-basi, Si Tambun Buncit ahirnya malah berkelahi dengan Jang Wawan, membuat orang-orang di sekitar ruang tunggu menjadi kalang kabut, sibuk berupaya melerai mereka.

Semua itu berawal dari matahari di atas setasiun kereta api Bandung merayap naik menebar udara gerah di seantero kota, membuat orang-orang menjadi mudah tersulut. Perlukah mendemo matahari? Ia telah meresahkan masyarakat…

***

3 Responses to “Suatu Ketika di Setasiun Kereta Api Bandung”

  1. dedeng 25/07/2010 at 6:31 pm #

    Duh kasihan jang wawan . saya juga sering mengalami seperti kisah ini dulu ketika masih sekolah di sma cibatu.tahun 1973-1975 tiap hari naik kereta dari cinunuk ke cibatu. kalau lagi menunggu kereta lama berangkat kadang2 batal.

  2. yon 15/12/2010 at 9:31 am #

    Sae kang…abdi ngantosan karangan salajengna.
    dadangsadkar,”hatur nuhun… ke, seratan salajengna mah, nuju rariweuh teu acan tiasa nga-update..”

  3. Ciungtips.blogspot 05/02/2011 at 1:57 pm #

    Keren banget kang, hoyong di ajar janten penulis eum … Jadi motivasi nih
    dadangsadkar: “sok atuh, diantos seratanana, kintunkeun ka dieu..’

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: