Mas Kerempeng vs Jawara Amri

4 Jul

Siapa namanya, tak begitu penting. Perawakannya kecil kurus. Mukanya pucat, sebanding dengan tubuhnya yang  seperti kurang gizi. Karena sekujur tubuhnya hanya didominasi tulang belulang, baik kita sebut saja ia Mas Kerempeng.

Ia bukan siapa-siapa. Hanya salahsatu dari sekian banyak warga pasar yang merasa teraniaya oleh kesewenang-wenangan Jawara Amri.

Sudah lama ia memendam rasa, semacam sebuah obsesi, ingin membebaskan diri dari perasaan depresi karena sering mendapat intimidasi Jawara Amri. Oleh karenanya, kalau kesempatan itu tiba, ia tak ingin menyia-nyiakannya.

Jawara Amri ini seorang jagoan bertubuh tinggi besar. Ia menganggap dirinya adalah satu-satunya penjaga keamanan pasar. Padahal,  tak seorang pedagangpun merasa telah mengangkat atau memberinya surat kuasa. Tetapi karena takut dan segan, tak ada yang berani menentang apapun kemauan Jawara Amri. Orang-orang hanya bisa mengurut dada setiap kali ia bertindak seenak sendiri saja.

Siang itu, tengah hari, saat terik matahari menyengat udara di seantero pasar, secara kebetulan Mas Kerempeng memergoki Jawara Amri sedang duduk selonjoran sambil menyenderkan punggung pada sebuah tiang kios. Kepalanya terantuk-antuk. Matanya terpejam. Rupanya ia setengah terlelap dalam kegerahan udara siang itu. Dengan tubuh berpeluh dan kepala gundul klimis yang mengkilap di bawah terpaan sinar matahari, Jawara Amri tertidur sambil duduk bersandar di tiang kios.

Mas Kerempeng mengendap-endap mendekatinya dari belakang. Perasaan takut telah lama hilang, tergantikan oleh obsesi ingin membalas kesewenang-wenangan penjaga keamanan pasar ilegal ini. Melihat kepala gundul yang mengkilap itu, Mas Kerempeng tak bisa lagi menahan diri. Ia tak perduli dengan apapun akibatnya, walaupun menurut akal jernih, bila Jawara Amri menghajarnya, fisiknya pasti tak akan selamat hanya dengan sekali hempas saja. Di depan orang banyak di pasar itu, ia melompat mengepit kepala Jawara Amri, lalu menjitak gundul yang kelimis itu dengan sekali jitakan keras. Sang Jawara terbangun sambil terkaget-kaget. Matanya membelalak. Secara refleks ia bangkit seraya membanting Mas Kerempeng hingga terguling-guling.

Semua orang di pasar tertawa terbahak-bahak, hingga terpingkal-pingkal. Jawara Amri marah sekali. Mukanya merah padam. Darah serasa naik ke ubun-ubun. Saking marahnya, ia lalu menghajar Mas Kerempeng habis-habisan, hingga kelengger.

Ya, memang, hanya satu kali jitakan di kepala. Tetapi karena jitakan yang hanya satu kali itu, Jawara Amri sangat terhina dan merasa bahwa ia telah dipermalukan di muka umum. Oleh karenanya, ia ingin membalas penghinaan besar ini sepuas-puasnya.

Namun, sambil terkekeh-kekeh Mas Kerempeng berkata, “ Engkau boleh saja memukuliku semaumu. Tetapi kepuasan yang akan kau dapatkan sedikitpun tak akan sebanding dengan kepuasan yang telah kuperoleh dengan menjitak kepalamu yang licin dan mengkilap itu.” Lalu iapun mati karena hajaran Jawara Amri. Tetapi ia mati dengan perasaan suka cita, puas karena telah terlepas dari obsesi yang memenjaranya selama ini.

Konon, meskipun Mas Kerempeng telah mati di tangannya, Jawara Amri tetap saja stress dan tertekan karena merasa sangat terhina. Menurutnya, dirinya yang gagah dan tak terkalahkan itu tak sepantasnya dipermalukan oleh seseorang sederajat Mas Kerempeng. Karena stress, iapun ahirnya mati akibat tekanan darah tinggi, dipenuhi rasa marah dan penasaran.

Kepada siapapun yang mengunjungi Blog-ku  dan membaca tulisan ini, sekali ini saja aku ingin tahu komentarmu, “Siapakah pemenang dari pertikaian antara Mas Kerempeng dan Jawara Amri?”

***

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: