Tangis Mak Ining

30 May

Apa arti sebuah tangis? Mungkin, tangis adalah kesedihan yang menggumpal, lalu mencari pelepasan dengan berubah wujud menjadi serupa suara. Di antara kita, adakah yang pernah mendengar suara tangis memilukan, begitu perih dan menusuk, hingga bisa membuat bulu kuduk merinding, seakan tangis itu dipenuhi misteri? Beberapa orang di kelurahan kami mengatakan, bukan hanya pernah, tapi sering. Sopir-sopir angkutan kota dan tukang ojek yang biasa makan di warung nasi Ceu Entin, di dalam gang sempit masuk dari sudut jalan simpang tiga, persis di belakang Rumah Sakit Umum Pusat, sering mendengar suara tangis seperti itu.

Suara tangisan seorang perempuan. Pada waktu-waktu tertentu. Biasanya ketika malam hampir larut. Tetapi sore haripun, bila kebetulan sepi akibat gerimis kecil menitik sepanjang hari, suara tangis itu kadang terdengar juga. Mulanya hanya berupa isak perempuan teramat nelangsa, seperti tertahan, terdengar samar. Timbul tenggelam, kadang ada kadang menghilang. Kemudian semakin jelas dan menyayat. Lirih seperti sebuah alunan gesekan rebab. Meratap. Lalu merayap, menyelusup lewat telinga siapapun yang mendengar, merasuk jauh hingga ke pusaran jantung paling dalam.

Kalau sudah begitu, orang-orang di warung Ceu Entin akan saling melirik.  “Seperti ada suara tangis. Kau mendengar ada yang menangis?”

“Tidak. Aku tak mendengar apa-apa.”

Akan tetapi, setelah hening sesaat, kemudian akan ada ralat. “Ya, sekarang aku mendengarnya. Samar-samar, tapi.”

Tadinya warga kelurahan hanya saling bertanya, siapa gerangan yang mampu mengeluarkan tangis begitu memelas, seperti sayatan pisau tajam, panjang dan mengiris-iris itu. Kemudian beberapa di antara warga mulai menebak-nebak, bahkan merangkai cerita yang sekiranya cocok dan  dianggap dapat diterima akal.

“Yang menangis itu mungkin Nini Uneh. Anaknya yang jadi TKW kan mati disiksa di Arab Saudi.”

“Bukan mati, hamil, menjadi korban pelecehan anak majikan.”

“Yang dikabarkan mati itu dari RT Sepuluh. Itupun bukan di Saudi, tapi di Malaysia, katanya jatuh dari lantai tujuh.”

“Jatuh, apa dijatuhkan?”

“Mungkin juga, sengaja didorong.”

Lalu satu dua orang mengatakan, suara tangis itu sepertinya datang dari arah kamar mati, yang berada di bagian belakang bangunan rumah sakit. Letak kamar mati itu persis saling membelakang dengan ruangan dapur warung Ceu Entin, hanya dibatasi benteng.

%d bloggers like this: