Terjun Malam

18 May

Di suatu malam yang kelam di bulan Agustus 1962. Jauh di wilayah pedalaman di atas rimba belantara Irian, Mayor Remi Purwaka bersama lima belas anggota pasukan payung lain diterjunkan di belakang garis pertahanan tentara musuh. Sementara di daerah pesisir pantai, tiga buah kapal selam menyembul dari kedalaman perairan laut untuk mendaratkan sepasukan parakomando di Teluk Tanah Merah, wilayah yang dijaga ketat oleh Belanda.

Ini merupakan sebuah strategi untuk menjepit, penggalan dari operasi Djajawidjaya, membebaskan Irian Barat untuk dikembalikan ke pangkuan pertiwi.

Dari ketinggian entah berapa ribu kaki, tepat pukul sebelas malam, dalam kegelapan yang pekat, Mayor Purwaka melompat dari pesawat, lalu meluncur pesat dari udara, menuju titik sasaran pendaratan yang telah diperhitungkan. Beberapa saat kemudian, payung membuka. Ia berayun, menggelantung sambil mengontrol arah terbang parasut.  Tetapi gagal, akibat terjangan angin terlalu kuat. Jarak pandang dan penglihatanpun terhalang oleh kegelapan. Maka ketika mendarat, ternyata tak mulus. Ia tersangkut di dahan sebuah pohon besar dan rimbun, dalam gelap gulita. Di antara pepohonan tinggi, di tengah rimba belantara Irian Barat yang lebat. Dingin, senyap, dan mencekam.

Ia mencoba membebaskan payung dari sangkutan. Tapi tak berhasil. Dengan susah payah ia mengambil segulung tambang yang memang telah dipersiapkan sebagai alat perbekalan dari ransel punggungnya. Ujung tali diikatkan ke dahan. Setelah ikatan dirasa kuat, lalu melepaskan diri dari tali-tali parasut yang membelitnya, dan beringsut turun dengan bergelantungan di tambang. Tetapi setelah tali itu ia turuni sampai habis, kakinya belum juga menyentuh tanah. Kedua kakinya masih saja menggantung. Ia terus bergelayutan di ujung tali. Entah berapa puluh meter ketinggian pohon ini. Padahal panjang tambang yang dibekalnya itu tak kurang dari sepuluh meter. Hatinya waswas. Berapa jauh lagi ke tanah? Ia menunduk ke bawah, tapi tak tampak apa-apa. Matanya tak mampu melihat. Semua gelap. Tak ada bintang, tak ada bulan. Kabut dingin dan tebal menambah kepekatan malam.

Lampu senter masih tersimpan di dalam ransel punggung. Kali ini ia tak bisa mengambilnya, karena kedua tangannya erat menggelantung memegangi tali. Iapun tak mau mengambil risiko memanggil-manggil anggota pasukan lain, khawatir sedang berada di area musuh. Pilihan satu-satunya hanya menunggu.

Mayor Purwaka memejamkan mata. Berkonsentrasi memasang telinga untuk mendengar. Sepanjang malam ia bergantung di tali, menahan dinginnya udara malam, menahan gigitan nyamuk yang terasa perih. Samar-samar ia mendengar suara gemerisik di dekatnya. Oleh karenanya ia menahan napas serta semakin menahan tubuhnya agar tak bergerak, sambil mengharap semoga yang bunyi itu bukan ular yang sedang merayap di dekatnya.

Lebih dari tujuh jam ia menggantung di tali, menunggu hari menjadi terang. Hingga, ketika fajar merekah dan burung-burung mulai bercicit, ia menunduk melihat ke bawah. Serta merta ia mengumpat, merasa tak ada gunanya semalaman menahan sengsara, menahan dingin dan gigitan nyamuk, dengan bergelantung di tali. Permukaan tanah ternyata hanya tinggal sejengkal lagi.

Yang sedikit mengobati rasa mengkalnya, ternyata ia tak sendiri. Beberapa anggota pasukannyapun bernasib serupa, sedang menggelantung erat pada pohon yang sama. Sambil menahan napas, berupaya tidak bergerak. Sepanjang malam. Menunggu terang tanah.

***

One Response to “Terjun Malam”

  1. Adrian 18/05/2010 at 2:30 pm #

    Wah, cerita lama yang diutarakan ulang dengan sangat lugas dan menarik! Salut.

    From Me to You: maturnuwuuun..

Comments are closed.

%d bloggers like this: