Photo Tanpa Bingkai

12 May

Sebuah sajak ditulis oleh Dadang Sadkar sebagai kenangan terhadap pantai indah Pangandaran. Daerah wisata di pantai selatan Jawa Barat. Banyak yang bisa dilihat di sana. Pananjung, Bojong Salawe, Green Canyon atau Cukang Taneuh, dan pantai Karang Nini.


di pantai pangandaran angin mengantarkan bau laut dan aroma buih ombak
matahari hanya satu
masih tetap yang kemarin kita sapa
waktu kita bermain saling mengejar bergantian dengan ujung tepi laut
yang keriangan menghapusi jejak-jejak kaki di pasir halus pantai ini
yang kemudian lari berbalik ketika kita ganti mengejarnya

kita seperti tengah kembali menjadi anak-anak kecil
tergelak sambil menggenggam butiran pasir memandangi langit biru
dan pohon pohon mangrove
dan kelepak camar camar putih
berhamburan
beterbangan menciumi pucuk ombak

berapa lama kita akan tinggal di sini?
berapa banyak yang masih tersisa dari kita?
kelak akupun hanya akan bermain di dalam kenangmu sahaja

o, cahaya bulan itu terasa lembut ketika sedang purnama
ajaib
padahal ia adalah bebatuan cadas
tetapi di bumi ia menjadi bulan yang indah

aku mengaum serupa lolong ajag di malam hari
tak jauh dari keramaian warung makan tempat kita menyantap kerapu tadi
dan kakap merah bakar – diguyur sambal pedas cobek jahe
tangkapan nelayan pananjung yang melaut siang tadi
sementara kita sedang bercanda dalam buih ombak bojong salawe

“di mana dadang?” ada yang bertanya
“jangan terlalu jauh ke tengah, mari di dekat sini,” ia meneriaki

berapa gelas kopi yang kita bayar?
berapa sisir pisang yang kita santap?

hari hari berlalu
siang – malam
siang – malam
siang lagi – malam lagi

lalu tahun terbang lagi
lalu hinggap pada dahan hari ini
“tahun keberapa sekarang?” kita bertanya lagi
“tinggal siapa yang tersisa dari kita?”

suatu ketika bila kau ke sini lagi kelak – sa’at aku telah tiada
menyusuri pasir pasir coklat bersama siput laut dan kepiting kecil
matahari pasti masih ada dan masih matahari yang ini juga
menyapamu seraya bertanya “di mana dadang sekarang?”
jawablah bahwa ia sudah rebah di pembaringan tidur panjang dengan tenang
ia telah menemukan yang selama ini dicarinya
karena ia telah bertemu dengan tuhannya

***

%d bloggers like this: