Tangisan Anak Negeri

19 Apr

Luka siapakah amis darah tercecer di sepanjang jalan berkabut? Seorang prajurit tua tanpa pasukan melangkah maju sendirian sambil meniup seruling. Tak ada yang tahu lagu apa yang didendangkan. Suaranya mendesah menyingkap timbunan sunyi tersembunyi mencari raga tanpa rupa. Hari ini bukan lagi miliknya.

Luka siapakah amis darah tercecer di sepanjang jalan berkabut? Seorang prajurit tua tanpa pasukan melangkah maju sendirian sambil meniup seruling. Tak ada yang tahu lagu apa yang didendangkan. Suaranya mendesah menyingkap  timbunan sunyi tersembunyi mencari raga tanpa rupa. Hari ini bukan lagi miliknya.

Genderang siapakah bisa mengusir tangis panjang menyayat anak negeri? Si Penidur terusik mengucak kelopak mata yang masih sayu. Tangan mengepal hanya untuk mengantar badan menggeliat. Orang-orang pinggiran berteriak, “di manakah penunggang kuda perkasa pembebas negeri, benarkah urat-urat syaraf telah membeku di sekujur organ tubuhnya?”  Si Penidur itu tak mendengarnya, matanya memicing dan kembali terlelap.

Tangis siapakah mengganggu tidur seisi negeri? Bulan pucat diam-diam bersembunyi ke belakang mega kelam. Lirih luka yang mengiris itu melintas melompatinya, menembus kencang menuju bintang-bintang jauh yang kemerlip, mencari penunggang kuda perkasa yang tak pernah datang. Cuma gagak tua kesepian yang meratap, “bukankah bapak kita sudah lama kita kubur di tanah yang jauh?”

Garut, 2010.


Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: