Lelaki dari Masa Depan

24 Mar

Di sebuah pinggiran petang, matahari semakin beringsut ke barat, menyelinap ke balik punggung bukit yang nampak jelas dari teras belakang rumah, menyisakan pendar-pendar cahaya berwarna jingga memoles tipis sebagian sisi langit.

Sambil menyenderkan punggung di sandaran kursi kayu, aku menatap lelaki tua yang mengaku bahwa ia diriku. Mukanya kuyu menggambarkan keletihan. Tubuhnya kurus dan agak terbungkuk, seperti sedang didera ketidakberdayaan memanggul beban hidup. Punggungnya kerap terguncang oleh batuk berkepanjangan. Bukan hanya rambutnya saja yang kulihat sudah memutih, melainkan juga kumisnya yang jarang dan janggutnya yang tipis. Bahkan juga sebagian besar alis matanya. Aku tak tahu pasti berapa usia sebenarnya. Tetapi wajah tua dan kulit keriput itu membuatku menaksirnya seakan sepuluh atau dua puluh tahun di atas usiaku.

“Aku ini kau, Dadang,” katanya lagi menegaskan, “aku datang dari masa depan.”

Kupandangi setengah tak percaya, “Benar-benar akukah, ia? Alangkah tuanya kini”. Lalu kucoba tawarkan keramahan senyum kepadanya, walau terasa hambar dan dipaksakan. Raut mukanya pun tak memberiku pertanda bahwa ia terkesan oleh keramahan yang kuberikan.

Sebetulnya, ini bukanlah kali pertama ia muncul menemuiku. Dulu, hampir tiga puluh tahun lalu, ia  suka mendatangiku juga. Hanya saja, waktu itu ia tampak sangat muda dan usianya masih kurasakan sebaya denganku. Contohnya, waktu di Kalimantan. Ya, di Kalimantan, di sela kesibukanku bekerja sebagai karyawan perusahaan minyak di Tanjung Santan, ia sering menyapa jika aku sedang merindukan kota kelahiran. Ia banyak bertanya-tanya, “Bagaimana kabar keluarga di kampung?”
“Seperti apa ya, kota kelahiran kita sekarang?”
“Masih adakah Sasak Rawayan, tempat kita bermain di Dayeuh Handap dulu?”
“Masih ingat, enggak, sama pak Oto, guru SD kita itu?”
“Apa ya, nama bioskop Garden sekarang?”
“Masih berdirikah sekolah Chung Hwa Chung Hwee, di sebelah kiri gedung bioskop Chung Hua itu?”

Tentu bukan hanya itu. Banyak sekali yang suka ia tanyakan ketika itu, hingga tak mungkin rasanya bisa kusebut lagi satu persatu. Sebagian besar bahkan aku sudah lupa, pertanyaan apa saja yang sempat ia lontarkan, karena sering kali ia muncul di sa’at-sa’at aku hampir terlelap di tempat tidur. Ucapan-ucapannya pun lebih menyerupai kerumunan kata-kata, ketimbang kalimat-kalimat yang tersusun rapi,  seperti “Hidup, kehidupan, hitam, putih, merah, hijau, agama, Tuhan, kaya, susah, miskin, sengsara, hidup, mati, surga……, neraka…….”  Kalaupun ada yang serupa kalimat, biasanya hanya sebagai penggalan-penggalan yang tak tentu arahnya, seperti  “Jer basuki mawa beya….”, “Witing tresna jalaran saka kulina…”, “Ajining diri saka lati, ajining salira saka busana…”, atau “Mengapa tidur disebut tidur?”, “Mengapa ya, bangku dinamai bangku?”, “Kenapa coklat itu berwarna coklat, dan hitam dinamai hitam?”, “Bagaimana ya, kalau yang hitam itu kita namakan saja putih, dan yang hijau saja yang kita sebut hitam?”
Banyak lagi celoteh-celotehnya yang terkadang aneh dan membuatku mumet hingga tertidur.

Kali lain, ia sering muncul sewaktu aku tinggal di Jakarta. Kadang di tengah malam, kadang di tengah keramaian ketika sedang menunggu bis kota di jalanan atau terminal. Di Jakarta, ia semakin sering menggoda, “Coba kalau hidup di Garut. Mungkin kehidupan akan terasa tenteram”.
“Jadi apa ya, Kang Ibon sekarang?”
“Di sini susah. Kepala jadi kaki, kaki jadi kepala”.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: