Dua Sajak Saya

23 Mar

cerita tentang sebuah kota

ada anak pipit dengan sayap gemetar
terbang bersama burung elang
menukik tajam
lalu menggelepar

seorang gadis kecil memungutnya
selepas menyanyi sumbang
menghibur mercy hitam
di perempatan jalan

rambutnya kusut masai
kurus legam dibakar bengis matahari
iba mengambang di pucat wajahnya
duka mengembun di bola matanya

seorang pemabuk tua datang sempoyongan
di tangannya masih tergenggam botol sisa minuman
bau arak menebar ketika tawanya melebar
ia berkata, “kau dan dia tak ada bedanya”

lalu truk kontainer tiba-tiba menyambarnya
hingga ia terkapar

tapi kota tak rela diam
cukup dihampar selembar koran
orang-orang berlalu-lalang

***

semalam

tadi malam seseorang datang
seperti mimpi
menjampiku dengan doa-doa panjang
sambil menggenggam jemari

wajahnya putih seperti salju di musim dingin
tubuhnya wangi seharum kembang melati
yang sempat kucium kemarin pagi

mungkin aku telah lama bersamanya
melangkahi hari-hari
luruh seperti daun-daun di musim gugur

aku mencium maut
sambil melumat penggalan kenang
masa lalu yang kelam

susah sekali merangkul nafas
kamar dipadati senyap
perlahan hilang ditelan gelap

kini tak lagi kumiliki apa-apa
selain desah lirih yang tersisa
“Gusti, ampuni hamba.”

***

One Response to “Dua Sajak Saya”

  1. dreesc 15/05/2010 at 7:25 pm #

    nice poems…. dree like those… lam nal

    From Me to You: Thank You. Lam nal balik..

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: