Bintang Pari

20 Feb

Suatu waktu, hampir tiga puluh tahun lalu, saya sedang menyepi memanjakan perasaan kesendirian yang memagut diri. Ketika itu hampir mendekati tengah malam. Saya berdiri di pinggiran deck anjungan minyak, di tengah laut Cina Selatan, berjarak tiga puluh menit perjalanan Choper BO-5 dari pulau Matak.

Sambil bersitelekan lengan di rel pinggiran deck, menatap laut di kejauhan, menembus pekatnya malam dicekam deru angin dan gemuruh gelombang besar laut China Selatan yang menakutkan. Merasakan betapa diri ini nyatanya bukan apa-apa. Ada atau tidak ada sedikitpun tak membuat perbedaan.

Dari kegelapan laut yang pekat, saya mengalihkan pandang, tengadah ke arah bintang-bintang yang berkelip di angkasa. Sempat terlintas sebuah tanya, “Berapa jauh jaraknya bintang-bintang itu dari tempatku berdiri?” Konon, katanya, jauhnya sampai ribuan tahun perjalanan cahaya.

Sebuah gugusan rasi bintang bersinar cemerlang melebihi bintang-bintang lain, membentuk sebuah gambar imajiner serupa Wuluku, sebuah alat bajak parapetani Sunda. Garis imajinernya menunjuk lurus ke suatu titik yang dipercaya merupakan arah utara. Sebuah tanya melintas lagi, “Masih di sanakah bintang-bintang itu sekarang? Masih di sanakah titik utara itu sekarang?”

Jika kau belajar Calculus, kau akan tahu bahwa letak bintang-bintang yang kita lihat sekarang sebenarnya adalah posisi mereka ribuan tahun lalu. Pada sa’at kita melihatnya sekarang, mereka mungkin sudah tak di situ lagi, berpindah ke tempat lain. Atau bahkan mungkin sudah hancur tak berwujud lagi. Jarak yang amat jauh telah membuat perjalanan cahayanya terlambat sampai.

Kala itu perenungan saya tak sampai sejauh itu, karena keburu dikejutkan oleh kedatangan manusia rakit, pelarian sipil dari Vietnam. Hampir seluruh penghuni anjungan lalu terbangun dan disibukkan. Menyemprotkan air dari Fire Hose untuk membuat mereka berasa segar. Membagikan selimut dan makanan. Memberi mereka tempat inap sementara, untuk siangnya dikirim ke Pulau Galang.

Saya teringat pada penggalan hari itu ketika merenungi bencana dan prahara yang sedang kita alami sekarang ini. Banjir dan tanah longsor, kemiskinan dan kemelaratan, degradasi moralitas anak bangsa, ditingkahi pertikaian antar kelas masyarakat.

Saya ingin mengatakan, sebagaimana cahaya bintang menempuh waktu sekian lama untuk hadir di hadapan kita, demikian pula bencana-bencana dan prahara inipun menempuh waktu sekian lama untuk menjelma di tengah-tengah kita. Sebab,  segala sesuatu tak ada yang terjadi secara benar-benar instan.

Tetapi, kalau unsur waktu kita abaikan dan hilangkan, saya ingin mengatakan bahwa bencana dan prahara yang kita alami sekarang ini adalah konsekwensi logis yang terjadi begitu saja, ketika kita memulai mengkapling-kapling dan membabat belantara, mengikis hutan-hutan menukar kayu gelondongan dengan devisa. Memulai meledakkan bukit-bukit dan gunung-gunung, mengayak bebatuan mencari bijih-bijih bernilai tinggi. Memulai menggerusi sawah-sawah dan ladang-ladang, disulap menjadi lahan pabrik dan kediaman parapriyayi. Memulai mengundang saudagar-saudagar kaya dari tanah seberang untuk disembah-sembah di negeri kita. Memulai mengubah negeri ini menjadi sebuah negeri industri setengah jadi. Menjadi peragawan teknologi yang cuma mampu melekatkan rancangan orang lain ke tubuh sendiri. Ya, benar, kita memulai semuanya ini di tahun 1968.

***

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: