Café Rendezvous

19 Feb

Hujan deras disertai angin kencang mengguyur kota sepanjang siang hingga sore hari. Kabarnya, hujan angin telah mengakibatkan sejumlah pohon di pinggiran jalan tumbang, sedikitnya di lima belas ruas jalan. Pohon-pohon berusia puluhan tahun itu tak kuasa bertahan, karena bukan hanya sebatas menyangga beban air, tetapi juga terjangan angin yang terlampau kuat.

Situasi seperti itu membuatku terdampar di  Café Rendezvous, di sudut jalan simpang tiga, menunggu hujan reda. Dibanding mengendara dalam deras hujan dengan jarak pandang teramat pendek, lebih kupilih mendapatkan kehangatan secangkir kopi di sore yang dingin ini.

Kafe itu tak terlalu penuh. Oleh karenanya aku leluasa memilih tempat duduk di sudut, sengaja memunggungi dinding, dengan arah pandang menghadap pintu masuk yang terbuat dari kaca. Dengan posisi seperti itu aku dapat melihat seluruh isi kafe, begitu pula pelataran luar, tanpa harus memutar badan. Semua berada dalam jangkauan pandangan. Semua berada dalam kendali.

Lalu kupanggil pelayan, memesan secangkir kopi hitam ditambah sepotong blueberry cake dan beberapa cemilan lain. Kusandarkan punggung ke sandaran kursi sambil mengatur posisi tubuh agar terasa nyaman, mencoba mengakrabkan diri dengan atmosfir ruangan. Segalanya tampak teduh dan temaram. Mungkin karena pengaruh warna furnitur bernuansa gelap, kursi-kursi berwarna hitam dengan meja-meja kayu coklat tua, serta lantai marmer bertekstur tulip. Satu dua lampion kotak berwarna merah tua terpasang di beberapa titik, semakin memperkuat kesan anggun. Bunyi curah hujan di luar terdengar kontras dibanding lantunan musik dari perangkat audio yang mengalun lembut di ruangan kafe.

Beberapa kali aku melirik arloji, sekadar mencari tahu berapa lama tersandera hujan. Kopi hitam yang terhidang terasa sedikit sepat di lidah. Setiap kali bibirku menempel di pinggiran cangkir kecil itu, aku hanya mengecapnya sedikit-sedikit.

Sekali lagi kupandangi arloji. Kali ini lebih lekat. Detik demi detik kuhitung. Selang sesa’at, aku mengangkat wajah mencoba menembus kaca pintu untuk melihat suasana di luar kafe. Lewat kaca buram itu kulihat hujan masih saja seperti berkejaran. Air menggenangi pelataran parkir cukup tinggi.

Suatu ketika,  pintu kafe terbuka secara tiba-tiba, menjadikan mataku sedikit silau terkena terpaan sinar dari luar. Lalu sebuah siluet membayang di ambang. Ketika silauku hilang, siluet itu buyar, menjelma jadi sosok seorang perempuan. Ia berjalan masuk, lalu mengambil tempat duduk berjarak beberapa meja dariku. Seperti terseret tarikan magnit kuat, mataku mencuri pandang melirik wajahnya. Terasa urat-urat di sekitar mata menegang. Kucoba menenangkan diri, namun tak mampu.

Perempuan itu berparas cantik. Rambut hitamnya tergerai sebahu. Tubuhnya molek dengan kulit putih mulus tertutup rapat dalam balutan blus berlengan dan rok panjang berwarna hitam. Aku tak ingin memujinya berlebihan, jadi akan kuakui secara jujur, garis-garis duka agak sedikit mengendurkan rona kecantikannya. Meski begitu, tetap saja, ia tampak cantik di mataku.

Jantungku berdegup mengencang. Bukan karena kecantikannya yang luar biasa, melainkan karena merasa seperti sudah begitu mengenalnya. Kalau saja aku percaya tentang adanya reinkarnasi, pasti akan menyangka perempuan ini merupakan jelmaan orang yang pernah dekat di kehidupan sebelum ini. Kucoba keras untuk mengingat-ingat, siapa tahu aku memang pernah mengenalnya. Atau, paling tidak, pernah tahu tentangnya. Tapi sekeras apapun mencoba, tetap saja tak berhasil kukenali sosok ini.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: