Buku Tentang Waktu

11 Jan

Sebuah pengenalan tentang waktu, muncul secara perlahan ketika saya sedang berpikir tentang semua ciptaan-ciptaan Tuhan. Dalam ruang perenungan, saya melihat setiap mahluk yang Dia ciptakan tidak tetap diam pada sebuah keadaan. Ia selalu bergerak dalam proses perubahan. Tidak ada satu bendapun yang setelah diciptakan lalu diam dalam suatu kondisi statis. Selalu ada dua kemungkinan, benda itu sedang bergerak maju ke arah pertumbuhan, atau sedang bergerak mundur dalam proses degradasi.

Benda itu sedang berjalan menuju kehidupan, atau semakin condong ke lubang kematian. Tak terkecuali benda-benda yang kita anggap hanyalah benda mati semata, seperti batu-batu atau gunung, misalnya. Meski kita lihat diam, sesungguhnya mereka setiap sa’at sedang bergerak terbawa rotasi bumi. Kata Fisika, semua yang bergerak selalu melepas energi. Pelepasan energi itu membuatnya berada dalam proses degradasi.

Karena adanya perubahan dari satu keadaan ke keadaan berikutnya, maka kemudian terciptalah waktu, yang tak lain merupakan ruang terbentang dari setiap titik perubahan yang terjadi. Jadi waktu adalah sebuah konsekwensi logis dari adanya perubahan pada setiap benda ciptaan.  Ia bukan sesuatu yang berdiri sendiri. Ketika Tuhan menciptakan kita, maka bersamaan dengan itu Diapun menciptakan waktu. Lalu ditugasi-Nya mengiringi detak jantung. Kalau kita mati,  maka waktu pun berhenti, hanya sebatas untuk kita. Bagi yang lain ia masih setia menjalani tugasnya.

Tuhan adalah Wujud yang menghidupkan dan mematikan. Dulu saya menyangka, pada sekali waktu Tuhan menghidupkan, lalu pada kali lain Dia mematikan. Tetapi kini saya menyadari, bahwa Tuhan tidak berada di bawah waktu. Dialah yang menciptakan waktu. Ketika Tuhan menciptakan kita, Dia menghidupkan dan mematikan kita pada sa’at bersamaan. Dalam mengarungi perjalanan hidup, setiap detik yang kita tinggalkan merupakan kematian, dan setiap detik yang  kita datangi merupakan kehidupan. Pada sa’at yang sama, detik-detik yang berlalu adalah kehidupan yang kita tinggalkan, dan setiap detik di hadapan kita adalah ruang yang semakin pendek ke arah kematian.

Sayapun lalu menjadi mengerti, bahwa selama ini kita sedang berjalan menuju dua arah berlawanan. Hari-hari yang kita jalani semenjak kelahiran, merupakan rangkaian perjalanan menuju kehidupan, sekaligus juga merupakan rangkaian perjalanan menghampiri kematian. Jadi tak salah kalau kau katakan setiap hari umur kita bertambah. Tak salah juga kalau kau katakan setiap hari umur kita berkurang.

Kelak ada sa’atnya raga tak sanggup lagi menanggung usia. Tuhan akan menugasi seorang malaikat melepas tali yang selama ini mengikat kita pada tubuh yang makin rapuh. Lalu membawa pergi ke suatu ruang kehidupan baru yang sekarang ini kita belum tahu. Segala sesuatu akan luruh pada waktunya. Selain Tuhan, tak ada yang abadi.

***

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: