Empat Juta Rupiah

29 Dec

Apa yang akan kau lakukan dengan uang empat juta rupiah? Mungkin saja yang segera terlintas adalah mengganti handphone. Itupun, kalau seleramu sekelas BlackBerry, mungkin kau masih harus menambah beberapa juta lagi. Akan tetapi, tahukah kau, bagi sepasang suami-isteri Dadan dan Yanti, angka empat juta rupiah itu adalah himpitan beban hidup yang sangat mencekik hingga keduanya putus akal.

Akibatnya, pasangan itu meninggalkan empat anaknya yang masih kecil-kecil telantar di suatu rumah kontrakan di Depok. Mereka melakukannya karena terpaksa, sebab selama ini mereka berutang kepada salahsatu perusahaan jasa tenaga kerja Indonesia sebesar empat juta. “Saya sangat mencintai anak-anak saya, tapi saya takut ditagih utang oleh PT terus-menerus,” Yanti mengaku.

Dua atau tiga tahun lalu, ada pula seorang ibu yang terpaksa melakukan bunuh diri bersama anak-anak balitanya, juga karena himpitan beban hidup yang ia derita.

Di negeri ini, banyak sekali cerita memilukan yang serupa. Akan tetapi, kita tidak mampu menangkap pesan dari seluruh kejadian itu. Yaitu, pesan untuk mau berbagi. Kesadaran itu tersisih oleh kesibukan mengejar karir, popularitas, kekayaan, dan persaingan-persaingan bisnis.

Memang, siapa tak ingin kaya. Semua orang, kalau bisa, tentu berkeinginan memiliki kekayaan melimpah, rumah megah dan mobil mewah, lalu menikmati segala macam kelezatan hidup yang ditawarkan. Apalagi pada jaman ketika kesuksesan dan kehormatan diukur oleh keberhasilan memperoleh kekayaan dan kedudukan sosial.

Tahun-tahun berlalu. Roda kehidupan berputar. Jaman pun terus berubah, semakin lama semakin mewah. Banyak di antara kita yang mampu berpagut pada waktu, bersahabat dengan jaman, dan terampil mengimbangi turun-naik irama kehidupan. Hidup bukan suatu kesulitan.

Namun bagi sebagian orang malang, hidup ini ternyata tak begitu ramah dan tidak sudi bersahabat dengannya. Mereka terpojok di suatu sudut sempit, terjebak dalam derita hidup yang dirasa keras. Bagi mereka, hidup ini terasa kejam. Ketika orang-orang kaya sedang sibuk dengan urusan harta-bendanya, ia seakan hidup terkucil di dalam pekat. Hidup terpaksa ia jalani dengan merangkak, tak kuasa meski hanya sekadar berpijak. Lemah, letih dan lapar tanpa ada pemimpin yang benar-benar mau perduli atas nasibnya.

Menyakitkan, memang. Sementara mereka terhimpit dalam kemiskinan, orang-orang kaya menghamburkan uangnya dalam pesta-pora ulangtahun, rekreasi ke tempat-tempat hiburan, atau menonton pertunjukan-pertunjukan mahal.

Kita memang patut berpikir:  Suatu kebajikankah namanya, menikmati kesenangan sementara sekelompok lain sedang dihimpit keputus-asaan karena kesengsaraan? Patutkah kita memuaskan diri dalam gelimang kekayaan, sementara sekelompok lain sedang menderita dalam kemiskinan?

Alangkah baiknya, jika sa’at akan melepas beberapa ratus ribu rupiah hanya untuk membeli barang-barang konsumtif sekadar pemuas selera, kita berpikir sejenak.  Jangan-jangan pada waktu kita melepas uang dari genggaman, seseorang lain di suatu rumah kontrakan sempit dan kumuh sedang menanggung sakit dan lapar, terbaring di atas tempat tidur ditunggui anak-isteri yang kebingungan dan putus-asa. Ia sangat membutuhkan sekali beberapa ribu rupiah untuk pembeli obat dan nasi. Ia lebih membutuhkannya dibanding  kita.

dadangsadkar.

***

%d bloggers like this: