Catatan Tentang Tahun Hijriyah

23 Dec

Sebagian orang Islam mempertanyakan pergantian tahun Hijriyah yang berlalu sepi. Tak seperti malam tahun baru Masehi yang selalu dirayakan secara meriah, bahkan terkesan mewah. Oleh karenanya, sejak beberapa tahun belakangan ini, sebagian orang Islam pun, paling tidak di kampung saya, mulai merayakan malam pergantian tahun baru Hijriyah dengan kegiatan-kegiatan seperti mengadakan pawai obor, pawai motor, atau kegiatan-kegiatan lain.

Tetapi di sini saya bukan mau berbicara tentang itu, melainkan tentang sisi sejarah dari kalender Hijriyah.

Sebelum zaman Islam, masyarakat Arab sudah mempergunakan kalender berdasar perhitungan peredaran bulan yang disesuaikan dengan perhitungan peredaran matahari. Para astrolog menyebutnya dengan istilah Lunisolar. Oleh karena setiap tahunnya perhitungan berdasarkan lunar selalu lebih cepat sebelas hari dari perhitungan solar, sebagai konsekwensinya, setiap tiga tahun sekali selalu ditambahkan bulan tambahan sebagai bulan ketigabelas, agar perhitungan kalender kembali sesuai dengan perjalanan matahari. Bulan interkalasi atau bulan tambahan ini disebut bulan Nasi’, yang ditambahkan pada ahir tahun setelah Dzul-Hijjah.

Pada zaman Islam, Nabi Muhammad saw mengubah perhitungan kalender ini menjadi sepenuhnya berdasarkan peredaran bulan, sehingga setelah itu tidak ada lagi bulan tambahan yang pada kenyataannya hanya menjadi penyebab pertikaian di antara para kabilah Arab. Sebagai konsekwensinya, sejak itu bulan-bulan dalam penanggalan Arab tak lagi identik dengan musim yang mengikuti kalender Masehi. Muharam sebagai awal tahun tak lagi selalu dimulai pada bulan September. Rabiul awal dan Rabiul ahir tak lagi dikenakan pada awal dan ahir musim gugur. Jumadil awal dan Jumadil ahir tak lagi merepresentasikan awal dan ahir musim dingin. Demikian seterusnya. Hanya, ada satu yang masih tetap. Yaitu, penyebutan tahun selalu didasarkan pada suatu peristiwa penting yang terjadi pada tahun tersebut. Misalnya, kelahiran Nabi Muhammad saw adalah tanggal 12 Rabiul awal Tahun Gajah, sebab pada tahun kelahiran itu pasukan bergajah raja Abrahah dari Yaman berniat menyerang Ka’bah.

Pada masa Khalifah Umar bin Khatab, kekuasaan Islam meluas meliputi semenanjung Arab, Mesir, bahkan sampai Persia. Pada tahun 638, Gubernur Irak Abu Musa al-Asy’ari berkirim surat kepada Khalifah Umar bin Khatab di Madinah. Isinya antara lain, “Surat-surat kita memiliki tanggal dan bulan, tetapi tak ada angka tahunnya. Sudah sa’atnya umat Islam membuat tarikh sendiri dalam perhitungan tahun”. Khalifah Umar menyetujui usul Gubernurnya ini. Dibentuklah panitia dengan Khalifah Umar sendiri sebagai ketuanya, bersama enam orang Sahabat Nabi terkemuka, yaitu Utsman bin Affan, Ali bin Abi Thalib, Abdurrahman bin Auf, Sa’ad bin Abi Waqqas, Thalhah bin Ubaidillah, dan Zubair bin Awwam. Mereka bermusyawarah untuk menentukan Tahun 1 untuk kalender yang selama ini mereka gunakan tanpa angka tahun. Ada yang mengusulkan dimulai dari tahun kelahiran Nabi, 571 Masehi. Ada pula yang mengusulkan agar dimulai dari tahun turunnya wahyu Allah swt yang pertama, 610 Masehi. Ahirnya, yang disepakati adalah usulan dari Ali bin Abi Thalib, yaitu tahun hijrahnya Nabi dari Mekah ke Madinah, 622 Masehi. Ali bin Abi Thalib mengemukakan 3 argumentasi. Pertama, dalam al-Quran sangat banyak penghargaan Allah swt terhadap orang-orang yang berhijrah. Kedua, orang-orang Islam mulai berdaulat dan mandiri setelah berhijrah ke Madinah. Ketiga, umat Islam sepanjang zaman diharapkan selalu memiliki semangat berhijrah, yaitu jiwa dinamis yang tidak terpaku pada suatu keadaan dan selalu ingin berhijrah ke kondisi yang lebih baik.

%d bloggers like this: