Catatan Kecil Tentang Hukum

23 Dec

Hari-hari bagai anak panah dilepas dari busurnya. Membawa banyak cerita, datang dan pergi silih berganti. Tetapi selama ini selalu saja meninggalkan jejak yang sama, yaitu tangis menyayat anak negeri. Hampir setiap hari diberitakan orang-orang sibuk berdemo menolak apa saja, pendemo  membakar-bakar ban, warga merusak kantor polsek, aparat bentrok dengan pedagang kaki-lima. Sepertinya, dongeng tentang bangsa yang paling ramah dan murah senyum ini  sudah tak terdengar lagi. Mereka kini telah berganti menjadi bangsa yang mudah mengamuk, cepat termakan hasutan, beringas dan senang merusak.

Di ranah lain, orang-orang menyibukkan diri berebut keadilan agar berpihak kepadanya. Ada orang rebutan hak milik dan melawan eksekusi, ada pasien bersengketa dengan pengelola rumah-sakit, ada selebriti bertikai dengan wartawan, ada pula sebagian anak manusia menderita dalam dinginnya ruang penjara hanya karena kesalahan yang tak seberapa.

Agaknya kita perlu melacak untuk mencari sebab dan sumber dari semua pertikaian di negeri ini. Melacak mundur dari mulai amuk massa, demo anarki, provokasi, pertikaian pribadi, sampai pada titik mencari kepastian hukum.

Apakah selama ini kita telah mengabaikan hukum? Secara kenegaraan, rasanya, tidak juga. Sejak bergulirnya reformasi, supremasi hukum telah dijadikan slogan yang  kita teriakkan sampai suara parau. Pemerintah telah memproduksi puluhan undang-undang, diteruskan dengan membentuk komisi ini dan itu, satgas ini dan itu. Jadi, tak ada alasan untuk curiga terhadap negeri ini sebagai negeri yang tidak berkeinginan menangani hukum. Tetapi, mengapa di sana sini masih saja ada pelanggaran hukum, ketidak-adilan dan bahkan terkesan kesewenang-wenangan? Adakah yang salah dengan cara kita berhukum?

Untuk mencari jawab atas pertanyaan ini, sebaiknya kita mulai melihat hukum bukan hanya sekadar sebagai peraturan semata. Sebab hukum bukan hanya undang-undang, melainkan juga pelaksanaannya. Pemerintah memang sudah banyak memproduksi undang-undang, tetapi kita juga harus melihat bagaimana undang-undang itu dilaksanakan. Ya, sekali lagi, hukum bukan hanya sekadar peraturan, melainkan juga perilaku. Menata hukum artinya menata perilaku manusia.

Hukum bukanlah keadilan. Hukum adalah kebijaksanaan. Oleh karenanya, Hakim sebagai pemutus kebijaksanaan seyogianyalah menjadi orang paling bijaksana dalam memutus suatu perkara. Setiap orang seyogianyalah mulai menyamakan persepsi tentang hukum dan keadilan. Selama ini, keadilan di mata seorang Jaksa belum tentu sama dengan yang diyakini Pengacara atau Terdakwa, dan belum tentu sama pula dengan persepsi keadilan yang dilihat menurut kacamata Korban.

Di mata saya sendiri, sebuah pengertian sederhana tentang keadilan adalah seperti ini:

Jika seseorang melakukan suatu kebaikan, dengan memberikan imbalan setara dengan kebaikan yang dikerjakannya, maka kita telah memenuhi keadilan. Apabila kita menambah imbalan itu melebihi dari yang seharusnya ia terima, maka hal itu merupakan suatu kebajikan. Sebaliknya, apabila kita mengurangi imbalan dari takaran yang seharusnya ia terima, maka artinya kita telah melakukan suatu kezaliman.

Demikian pula jika seseorang melakukan suatu kesalahan, dengan memberikan hukuman setimpal dengan kadar kesalahannya, maka kita telah memenuhi tuntutan keadilan. Apabila kita memberikan hukuman kurang dari takaran yang seharusnya ia terima, maka hal itu merupakan suatu kebajikan. Sebaliknya, apabila kita memberikan hukuman melebihi dari yang seharusnya ia terima, maka artinya kita telah melakukan suatu kezaliman.

Untuk menata perilaku manusia agar menjadi masyarakat yang tertib dan damai, kita memerlukan hukum yang tidak hanya sekadar menerapkan keadilan semata, melainkan dibutuhkan lebih dari itu. Kita membutuhkan hukum yang sarat dengan kebijaksanaan, dan memiliki semangat untuk memberikan kebajikan kepada masyarakat. Setidaknya, mampu memberikan perasaan nyaman dan kedamaian bagi setiap orang, kaya atau miskin, pejabat atau rakyat jelata.

Hari-hari terus datang dan pergi. Selama ini, setiap hari yang datang selalu membawa tragedi baru. Setiap hari yang pergi selalu meninggalkan luka dan tangis menyayat. Di belakang kita, banyak persoalan-persoalan hukum yang belum selesai. Apakah semua itu akan kita biarkan saja menjadi kisah-kisah yang tak pernah tuntas, ataukah akan kita carikan terobosan-terobosan hukum untuk kemaslahatan bangsa ini.  Sepatutnyalah kita mendambakan bangsa ini menjelma menjadi bangsa yang semakin dewasa dan arief. Semoga saja.

***

%d bloggers like this: