Hukum dan Keadilan

10 Dec

Hukum tak identik dengan keadilan. Hukum tak serta-merta merupakan penjelmaan dari keadilan. Oleh karenanya, tak selamanya keduanya berjalan seiring. Ketika negara dipimpin oleh suatu pemerintahan yang bersih dan berwibawa, Hukum berfungsi menjadi pengayom masyarakat. Tetapi manakala Hukum merasa dirinya telah menjadi penguasa, maka ia berubah menjadi begitu angkuh, dingin dan kaku.

Hukum tak identik dengan keadilan. Hukum tak serta-merta merupakan penjelmaan dari keadilan. Oleh karenanya, tak selamanya keduanya berjalan seiring. Itulah sebabnya, ketika pada suatu waktu di suatu tempat di Jawa seorang ibu tua yang mengambil tiga biji cokelat dijatuhi vonis pidana, dan  di tempat lain  seorang lelaki setengah baya karena memetik tiga buah semangka demi hukum harus mendekam di penjara, maka Keadilan menggeliat tak rela.

Ketika negara dipimpin oleh suatu pemerintahan yang bersih dan berwibawa, Hukum berfungsi menjadi pengayom masyarakat. Sebabnya, Roh Keadilan yang menaburkan wewangian dan kesejukan, merasa nyaman bersemayam di dalam tubuh yang bernama Hukum. Namun, Hukum itu sendiri seperti sebuah ruang gelap yang menyimpan begitu banyak misteri. Oleh karenanya, tak selamanya Keadilan akan betah bersemayam di dalamnya. Manakala Hukum merasa dirinya telah menjadi penguasa, maka ia berubah menjadi begitu angkuh, dingin dan kaku. Aparat-aparat Hukum pun memperlakukan institusinya seperti sebuah patung berhala yang harus ditakuti masyarakat. Kalimat-kalimat di dalam kitab peraturannya lalu menjadi ayat-ayat suci yang tidak boleh lagi ditepis dalam situasi apapun. Kalau sudah begitu, bisa terjadi seseorang disidang di pengadilan hanya karena men-charge baterai telepon selularnya di sebuah lobi apartemen, atau seorang buruh perkebunan dijatuhi hukuman penjara hanya karena memunguti biji-biji kapuk yang terserak.

Dalam perjalanan waktu, selalu ada masa di mana Hukum menjadi sebuah rumah dan Keadilan menjadi penghuninya. Akan tetapi terkadang ada pula masa di mana Keadilan terbang meninggalkan sarang yang bernama Hukum, manakala ia tidak lagi diakomodir di dalamnya. Lalu, tinggallah Hukum menjadi sebuah tubuh kosong seperti kepompong.

Kegamangan kontroversial antara Hukum dan Keadilan dapat dilihat pada peristiwa seorang ibu muda bernama Prita Mulyasari, misalnya. Ia harus mendekam di dalam tahanan, hanya karena mengeluhkan pelayanan buruk yang diterimanya sewaktu dirawat di sebuah perusahaan pelayanan kesehatan. Karena keluhannya itu, ia menghadapi gugatan pidana dan perdata. Terahir, setelah melewati berbagai fase peradilan, ia diharuskan mengganti kerugian sebanyak dua ratus empat juta rupiah atas kesalahannya, karena dianggap telah mencemarkan nama baik perusahaan itu.

Kali ini, Keadilan tidak lagi diam berpasrah diri. Ia mulai menggelitik setiap kalbu masarakat yang masih memiliki nurani. Mengajak bangkit memprotes kesewenang-wenangan pejabat-pejabat yang menunggangi institusi hukum. Keadilan kini mengetuk setiap hati anak negeri, untuk ikut menanggung hukuman denda yang dijatuhkan kepada Prita, dengan menyerahkan uang recehan yang dimilikinya, sebagai tanda protes terhadap arogansi institusi Hukum. Koin demi koin pun terkumpul. Dari kanak-kanak, dari murid-murid SD, dari pengamen jalanan, dan dari setiap lapisan masyarakat lainnya. Kasusnya bukan lagi sekadar kasus Jaksa menuntut Prita. Ia telah bergulir menjadi kasus institusi peradilan berhadapan dengan nurani masyarakat. Ia telah menjadi simbol perlawanan rasa Keadilan melawan keangkuhan Hukum.

***

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: