Kayafas

4 Nov

Sebuah cerita pendek, ditulis oleh Dadang Sadkar, tentang sekelompok mayoritas menyerang kelompok minoritas yang mereka anggap menyimpang dalam pemahaman terhadap sebuah keyakinan. Di sini, penulis tidak memosisikan diri untuk menghakimi kelompok mana yang benar atau salah. Sebab, setiap kelompok akan beramal sesuai dengan pemahaman yang diyakininya. Namun hanya Dia-lah yang mengetahui, siapa di antara kita yang berjalan di atas jalan yang ditunjuki-Nya. Penulis hanya ingin mengajak merenung, bagaimana sebaiknya kita mencari kearifan dalam menyikapi perbedaan.

Cerpen dadangsadkar

Sudah sejak satu jam lalu aku bersama Adrian membaur di sini.  Kami sengaja menyelinap di antara kerumunan manusia yang memadati tanah lapang, meluber hingga ke jalan raya. Berkali-kali kami memutar pandang untuk mengamati situasi. Puluhan spanduk panjang-panjang kulihat dipasang di sana-sini. Isinya sangat propokatip dan membakar.

Dari atas kap sebuah mobil, seseorang tengah menyulut gerombolan manusia dengan orasi berapi-api. Perawakannya agak gemuk pendek, berkulit gelap. Wajahnya keras dan garang, terkesan kotor dan kusam lantaran kumis, jambang, dan janggut tebalnya seperti tak pernah dicukur rapi. Serban putih dan jubah panjang yang ia kenakan seakan ingin memperkokoh penampilannya bahwa ia bukan asli keturunan pribumi. Kudengar orang-orang memanggilnya Guru.

“Dengarkan! Hari ini, saya, berbicara atas nama aspirasi masyarakat dan seluruh umat, meminta mereka bubar..! Jika tidak, itu artinya mereka mengumumkan perang..!” Suara Guru lantang, meledak-ledak. Setiap kalimat yang diucapkannya selalu  ia barengi dengan kepalan tangan diacungkan ke langit.

“Allahu Akbar..!” Gemuruh suara manusia menyambutnya dengan pekikan takbir berkali-kali.

“Saya akan memimpin gerakan ini sampai tuntas, sampai mereka hilang dari bumi negeri ini!” Suara Guru makin meninggi dan garang.

“Allahu Akbar..!” Orang-orang kembali berteriak sembari ikut mengacung-acungkan kepalan tangan ke udara.

Satu jam lebih Guru berorasi. Terkadang bicaranya melantur ke sana ke mari. Namun intinya selalu sama, yaitu menyulutkan kebencian. Diujung orasi, ancaman semakin mengental. Kali ini orang-orang itu tidak lagi sekadar berteriak-teriak. Mereka berebut menerima pentungan-pentungan kayu dan bambu yang sengaja dibagi-bagikan, lalu bersiap berangkat sambil tak henti meneriakkan takbir saling bersahutan. Mereka berdiri berderet di sepanjang jalan raya, laiknya pasukan tentara sedang bersiap berangkat ke medan tempur. Di paling depan, puluhan orang berebut menaiki mobil bak terbuka, sedang puluhan lainnya telah bersiap-siap di atas sepeda motor yang sengaja digas meraung-raung.

Suasana semakin terasa bertambah gawat. Aku segera menarik lengan Adrian, mengajaknya cepat-cepat pergi selagi mereka belum mulai bergerak. Setengah berlari kami mengayun langkah di sepanjang jalan, tak saling bicara sepatahpun. Degup jantung berdebar tak beraturan, desah napaspun seakan memburu. Perasaan kami serasa tercekam.

Setengah kilometer dari tempat itu, jama’ah kami sedang menyelenggarakan acara pengajian kerohanian. Banyak tetamu yang karena kasalehannya datang memenuhi undangan. Sebagian besar sengaja datang dari luar kota. Bukan hanya kaum lelaki saja, mereka juga membawa isteri dan anak-anak. Jadinya, aku sangat menghawatirkan keselamatan mereka.

Sebelum para penyerang datang, kami telah sampai di tempat  jama’ah kami menggelar pengajian. Beritapun cepat-cepat disebar. Puluhan anggota panitia yang tergabung dalam seksi keamanan segera bersiaga. Pintu gerbang ditutup, setelah itu digembok. Kami lalu berjaga-jaga di halaman dalam.

Tak berapa lama, pasukan penyerbu itu tiba. Pekik riuhnya mengingatkanku pada kisah laskar Mataram sewaktu menggempur setiap kerajaan yang tak mau takluk.

Lautan manusia itu kini mengepung areal gedung. Aku tak bisa menghitung jumlahnya. Mungkin ratusan. Mungkin juga ribuan.. Mereka bergerombol-gerombol di depan pagar, memasang  wajah-wajah beringas, berteriak-teriak memaksa agar pintu gerbang dibuka. Namun tentu saja kami tak mengijinkan orang-orang itu memasuki pekarangan gedung.

“Buka…! Buka…!” Rombongan paling depan menggebrak-gebrak pagar. Teriakannya dipenuhi amarah.

“Rubuhkan…! Rubuhkan saja…!” Dari barisan belakang terdengar teriakan-teriakan tak kalah garang, saling bersahutan.

Manusia-manusia itu semakin menggila. Pintu pagar diguncang-guncang untuk dirobohkan. Aku, bersama puluhan panitia dan warga gedung, berusaha memegangi gerbang menahan guncangan. Sebuah batu sebesar kepalan mulai disambitkan, lalu disusul batu-batu lain yang lebih besar. Ada juga potongan-potongan kayu dan botol-botol bekas minuman. Orang-orang itu semakin liar. Namun kami tetap bertahan.

%d bloggers like this: